Showing posts with label bencana. Show all posts
Showing posts with label bencana. Show all posts

Friday, December 24, 2010

NASA : Ini Foto Keajaiban Tsunami Aceh

VIVAnews - Pada 26 Desember 2004, gempa bumi bawah laut 9,1 skala Richter mengguncang Samudera Hindia di lepas pantai Sumatera Utara, Indonesia. Dampak gempa itu begitu kuat sampai 1.200 kilometer dari pusat gempa, hingga mencapai Alaska.

Gempa dahsyat itu memicu tsunami mematikan. Tsunami menyapu sejumlah pantai di Samudera Hindia hingga ketinggian 30 meter. Lebih dari 230.000 orang tewas dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal.

Situs Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, mengabadikan foto Aceh, sebelum dan sesudah diterjang gelombang gergasi, tsunami.

Salah satu foto menggambarkan kondisi Kota Lhoknga, di pantai barat Sumatera dekat Ibukota Aceh, Banda Aceh. Kota itu rata dengan tanah.

Namun, sebuah keajaiban tampak. Dalam foto terlihat fitur melingkar berwarna putih. Itu adalah sebuah masjid yang selamat dan berdiri kokoh di tengah segala kehancuran.

NASA: Aceh pasca tsunami1

NASA: Aceh sebelum tsunami1
Foto selanjutnya direkam menggunakan instrumen Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) di Satelit Terra milik NASA.

Foto ini menggambarkan kondisi sebelum tsunami pada pada 17 Desember 2004, dan tiga hari paska bencana, 29 Desember 2004 (atas).

Awalnya, terlihat vegetasi hijau di sepanjang pantai barat, juga bentangan pasir putih. Setelah gempa dan tsunami, wilayah pantai tampak berwarna coklat keunguan.

NASA: Aceh pasca tsunami3

NASA: Aceh sebelum tsunami3

Foto lain diambil instrumen Landsat 7 Enhanced Thematic Mapper Plus (ETM +) menunjukkan area kecil di sepanjang pantai Sumatera di Provinsi Aceh, di mana tsunami menghancurkan jalan darat.

Di daerah ini, gelombang raksasa menyebabkan kerusakan total di area 1,5 kilometer persegi dari bibir pantai. (art)

NASA: Aceh pasca tsunami2

NASA: Aceh sebelum tsunami2

• VIVAnews
http://nasional.vivanews.com/news/read/195543-nasa--ini-foto-keajaiban-tsunami-aceh

Sunday, November 7, 2010

Subhanallah! Masjid di Pesisir Mentawai Tak Tersentuh Tsunami

Sumber : Wahw33d Blog

Subhanallah..!!!. Ada Masjid Di Pinggir Pantai Tak Tersentuh Tsunami Di Mentawai - Pagi itu, sekitar pukul 10.00 WIB, langit Sikakap tampak mendung. Di luar rumah tanah tampak lanyah. Pepohonan dan rerumputan masih basah setelah diguyur hujan deras sepanjang malam. Sebentar lagi, sepertinya hujan deras bakal turun. Ya, membasuh duka Bumi Sikerei.

Di luar rumah, bau mayat menyengat. Aroma tak sedap menebar ditiup angin. Memang, hingga Jumat (29/10), mayat masih bergelimpangan di pinggir jalan. Pikiran saya langsung terbayang ratusan warga Pagai Selatan yang bertahan di perbukitan, dalam kondisi hujan badai. Selain menahan lapar, dinginnya malam, mereka harus melawan penyakit yang kini menyerang.

Ternyata benar. Hujan deras mengguyur Sikakap. Tak hanya hujan, tapi juga badai. Di posko utama, para jurnalis dan relawan telah berkumpul. Seperti biasa, setiap pagi kami siap-siap menyisir desa terpencil yang belum terjamah bantuan. Pagi itu, tim relawan dan jurnalis hendak menuju Dusun Pasa Puat di Pagai Utara. Dusun itu, semua rumah hancur. Mujur, tidak ada korban jiwa.

http://www.voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos2/masjid-tua.jpg&h=235&w=355&zc=1

..."Kami dalam masjid ada sekitar 50 orang, sedangkan warga yang lain telah menyelamatkan diri ke perbukitan yang berjarak satu kilometer dari masjid. Melihat masjid tidak kena sama sekali, kami merasa heran. Setelah itu kami sadar ini adalah kehendak Tuhan,...

Perjalanan menggunakan kapal kayu atau long boat. Kapal itu mampu memuat 12 orang dan sedikit logistik untuk pengungsi. Berapa menit berlayar, gelombang dua meter menghadang. Pelayaran pun dihentikan. Setelah menunggu sekitar satu jam, boat yang dinakhodai Dayat itu dilanjutkan selama dua jam pelayaran. Sepanjang perjalanan, boat nyaris karam karena dipenuhi air. Kami sampai di tujuan sekitar pukul 17.00 WIB.

Dari pantai, Dusun Pasa Puat sunyi senyap. Sedikit pun tidak terlihat tanda-tanda seperti sebuah kampung. Permukiman penduduk rata dengan tanah. Tak satu pun rumah warga yang berdiri. Semua tiarap. Hanya ada satu bangunan berdiri kokoh menghadap pantai. Ya, sebuah masjid. Garin masjid itu juga selamat. Zulfikar namanya.


Hari beranjak senja. Hujan belum juga reda. Zulfikar tampak bersiap menunaikan Shalat Maghrib. Dalam obrolannya, pria berusia 40 tahun itu mengaku telah tingal di dusun itu sejak kecil. Sama dengan usia masjid itu yang berdiri sekitar tahun 1960 silam. "Ini masjid tertua di dusun kami. Bentuk masjid itu sudah tidak asli lagi, karena terus diperbaiki," ujar Zulfikar.


Zulfikar menceritakan, masjid ini sama sekali tidak tersentuh tsunami pada malam itu. Padahal, lokasinya tidak jauh dari pantai. Sedangkan rumah-rumah warga di sekitar masjid, rata dengan tanah. Masjid inilah yang menjadi tempat perlindungan masyarakat saat gelombang besar datang.


Seperti mukjizat, air laut hanya sampai di teras masjid. Di luar masjid, Zulfikar melihat dengan mata kepala sendiri gelombang tsunami mencapai delapan meter. "Kami dalam masjid ada sekitar 50 orang, sedangkan warga yang lain telah menyelamatkan diri ke perbukitan yang berjarak satu kilometer dari masjid. Melihat masjid tidak kena sama sekali, kami merasa heran. Setelah itu kami sadar ini adalah kehendak Tuhan," jelas pria berjenggot itu.


Zulfikar dan 50 warga lainnya tidak henti-henti mengucap kebesaran Allah. Di luar masjid, tsunami terus menerjang sebanyak tiga gelombang. Tiada yang menduga, tsunami menghindar dari masjid. "Sepertinya, di masjid air terbelah, sehingga lantai masjid pun tidak basah sama sekali," kenangnya. ( voa-islam.com )


source:

Monday, August 30, 2010

Potret Kepanikan Warga - Meletusnya Gunung Sinabung

TRIBUN MEDAN
Dedy Sinuhaji, saat bertugas di sekitaran Gunung Sinabung. Dedy berada di lokasi sejak Jumat malam. Ia pun tak luput terkena hantaman debu vulkanik.
BERASTAGI, KOMPAS.com — Ribuan warga mengungsi dari kaki Gunung Sinabung, Tanah Karo, Sumatera Utara, setelah gunung tersebut meletus pada Minggu (29/8/2010) dini hari pukul 00.15 WIB.

Terlihat dalam gambar yang berhasil direkam fotografer Tribun Medan, ribuan warga menembus kegelapan malam sembari membekap tubuhnya dengan kain sarung seadanya demi menghindari semburan debu vulkanik dan ancaman lava pijar yang masih terus menyembur dari kawah Gunung Sinabung.

Dedy Sinuhaji, fotografer Tribun Medan yang langsung terjun ke sekitar kawasan Gunung Sinabung, Tanah Karo, Sumatera Utara, sejak Jumat (27/8/2010) malam, tak luput terkena hantaman debu vulkanik.

Meski demikian, kondisi itu tak menghalangi Dedy untuk mengabadikan suasana sekitar kawasan Gunung Sinabung dan kepanikan warga akibat letusan gunung tersebut.

Terlihat dalam gambar, pakaian, tas, helm, dan kamera sang fotografer dipenuhi debu vulkanik. Hingga pukul 03.00 dini hari tadi, Dedy melaporkan bahwa debu vulkanik masih terus mengepul hingga kota Berastagi.

Bahkan, beberapa ruas jalan di kota Berastagi yang berjarak sekitar 30 kilometer dari Gunung Sinabung sudah tertutupi debu vulkanik. Sekadar diketahui, kota Berastagi berjarak sekitar 40 kilometer dari pusat kota Medan, ibu kota Provinsi Sumatera Utara.

Sementara itu, ribuan warga dari sejumlah desa di kaki Gunung Sinabung, Tanah Karo, Sumatera Utara, yang mengungsi hanya bisa membawa bekal seadanya. Maklum, sehari sebelumnya, BMKG menyatakan pengungsi sudah bisa kembali ke kediamannya masing-masing karena aktivitas Gunung Sinabung tidak berbahaya.

Namun tiba-tiba, diawali gempa vulkanik, Gunung Sinabung memuntahkan lava pijar yang terlihat jelas dari kota Berastagi. Sejauh ini lava tersebut masih jatuh di kepundan gunung, namun bukan tidak mungkin bakal menghajar permukiman penduduk di kaki gunung. Suasana di sekitar Gunung Sinabung masih mencekam. (Dedy Sinuhaji/Rahmad Nur Lubis)