Sunday, August 15, 2010

Mengapa "Keong Racun" Begitu Terkenal

VIVAnews -

Shinta dan Jojo bukanlah penyanyi, namun menjadi perbincangan lewat aksi lipsync lagu "Keong Racun" di media sosial YouTube. Aksi keduanya membuat lagu "Keong Racun" menjadi salah satu yang dicari. Kedua gadis Bandung ini bahkan lebih populer daripada penyanyi asli lagu tersebut.

Bagi Roby Muhamad, pakar media sosial yang mengajar di Universitas Indonesia, Shinta dan Jojo adalah bukti "epidemi sosial" di internet bukan berbasis kualitas. Bukan kualitas yang terpenting, namun bagaimana dia bisa menyebar, kata Roby dalam sebuah diskusi di Teater Salihara, Jakarta, Sabtu 14 Agustus 2010.

"Untuk berhasil menciptakan epidemi sosial, jangan hanya fokus pada kualitas ide, apakah ide tersebut bisa berhasil atau tidak. Tetapi, fokuslah pada mekanisme penyebaran," kata penemu teori "Six Degrees of Separation" atau rata-rata semua orang di dunia terhubung melalui enam perantara itu.

"Coba perbanyak ide. Ide mana yang berhasil, itu yang kita dorong. Sama halnya dengan bisnis. Coba perbanyak bisnis. Bisnis mana yang mulai terlihat berhasil, fokus di bisnis itu dan nantinya akan besar dengan sendirinya," kata fisikawan jebolan Institut Teknologi Bandung yang memilih hijrah mengkaji sosiologi itu.

"Mekanisme penyebaran terbantu dengan orang-orang yang terlibat di dalam media sosial. Mereka itu adalah jejaring bosan kerja (JBK)," kata Roby. "Kenapa disebut seperti itu?"

Mereka yang aktif di media sosial, khususnya media sosial digital, akan memilih untuk ber-Facebook ria, atau Twitter dan BlackBerry. "Dan, mereka aktif di sana. Terbukti bahwa mereka yang aktif di ranah tersebut adalah orang-orang yang bosan kerja atau memang kurang kerjaan. Jejaring sosial ini bisa dikatakan jejaring sosial terbesar di dunia," katanya.

"Seperti pada kasus "Keong Racun". Kenapa bisa meledak di Internet. Karena Internet diramaikan oleh mereka yang energetik dan maniak. Ada maniak obsesif. Mereka terlibat di sebuah media sosial karena obsesi untuk memperjuangkan apa yang dianggap benar. Terdapat pula maniak narsis, seperti Shinta dan Jojo."

Saat ini, kata Roby, pergerakan di media sosial kini lebih terdistribusi. Zaman sekarang, khususnya di dunia pemasaran, influencer jadi tidak terlalu dibutuhkan. Gerakan sosial digital efektif karena berbasis jejaring kelompok. Ketika sebuah isu menarik muncul dan kemudian meluas, distribusi informasi itu menyebar dengan sendirinya.

"Jadi, media sosial kini dapat dijadikan media untuk menyebarkan narasi gerakan sosial tertentu, distribusi informasi, bahkan menjadi alat koordinasi/organisasi," katanya.

• VIVAnews

Sarjana "Aja" Kalah - Kuli Panggul

KOMPAS.com



Seorang ”porter” atau tenaga pengangkut barang di pasar Tanah Abang bisa mendapat Rp 400.000 sehari pada masa menjelang Ramadhan. Tak dimungkiri, Pasar Tanah Abang menjadi ceruk nafkah bagi jutaan manusia hingga pelosok Nusantara.

Berbagai jenis usaha pendukung menggantungkan nasibnya di Tanah Abang. Di balik kesemrawutan pasar legendaris ini, rupiah terus menggelinding, berputar, memberi kontribusi yang riil pada perekonomian negeri.

Padahal, komoditas utama yang menjadi andalan di sini ”hanya” kebutuhan sandang. Namun, jenis usaha barang dan jasa pendukungnya bermunculan amat beragam, mengepung pasar. Secara garis besar, jenis usaha pendukung ini mencakup tiga kategori.

Ketiganya adalah usaha yang memasok kebutuhan di Tanah Abang seperti konfeksi; yang mendukung kebutuhan para pembelanja seperti rumah makan atau restoran serta motel; dan yang mendukung distribusi barang dari Tanah Abang seperti ekspedisi hingga kuli angkut atauporter.

Usaha konfeksi tersebar baik di Jakarta dan sekitarnya, juga di daerah. Toko Syam di Blok A, misalnya, memiliki usaha konfeksi sendiri di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Busana dari Syam juga kerap dikenakan pemain sinetron religi berjudul Inayah (Indosiar), Shandy Aulia. Sementara toko busana muslim laki-laki al-Mia memiliki usaha konfeksi di kawasan Kemandoran, Jaksel. Setiap kemasan baju al-Mia ditempeli label: Aku Cinta Produk Bangsaku.

Toko Syam, yang baru tiga tahun berdiri, mempekerjakan 15 penjahit, sementara al-Mia kini mampu mempekerjakan 400-an karyawan asal Pekalongan, Jawa Tengah, yang sebagian besar putus sekolah.

”Dalam sepekan, penjahit mendapat upah Rp 700.000 atau Rp 2,8 juta per bulan. Mereka tak perlu ngontrak rumah karena tinggal di wisma kami yang ditempuh berjalan kaki ke konfeksi. Makan juga kami beri,” tutur Herianus, pemilik al-Mia.

Ekspedisi dan ”porter”

Penyebaran pakaian van Tanah Abang di Tanah Air sulit terwujud tanpa jasa ekspedisi. Usaha ekspedisi tampak berceceran di Tanah Abang. Mulai sejak jalan layang Karet, sepanjang Jalan KH Mas Mansyur, kawasan Jati Baru, Jalan Wahid Hasyim, Jalan Kebon Kacang I-IV, disesaki sekitar 200 jasa ekspedisi. Perputaran uang di bidang usaha ini saja dalam sehari miliaran rupiah.

Berbagai ekspedisi ini melayani pengiriman ke berbagai pelosok Nusantara, seperti Natuna, seluruh Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua, hingga mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Malaysia, dan Afrika.

Setiap ekspedisi di Tanah Abang biasanya juga merupakan perpanjangan jasa ekspedisi yang sama di setiap daerah. Dalam sehari, terutama menjelang Lebaran, setiap ekspedisi mampu mengirim paket sekitar 20 ton.

Jasa ekspedisi CV Cinta Saudara, misalnya, mengkhususkan pengiriman ke Jambi, Sumatera. Marjuli (53), pemiliknya, menuturkan, menjelang Lebaran kini, dia mampu mengirim 27 ton pakaian ke Jambi dengan ongkos Rp 1.250 per kilogram.

Menurut Marjuli, ekspedisi di Tanah Abang sudah terbagi-bagi berdasarkan daerah pengiriman barang. Setiap daerah dikuasai perusahaan ekspedisi tertentu. ”Kalau kita menyeberang ke wilayah orang, bisa ribut,” ujar Marjuli.

Setiap jasa ekspedisi itu biasanya juga mengirimkan suatu barang dari daerahnya ke Jakarta. Contohnya Ekspedisi Hakiki di Jalan KH Mas Mansyur, yang spesialisasi mengirim barang ke wilayah Kalimantan. Menurut Rizal (38), pemilik Hakiki, dari Banjarmasin, barang yang dikirim ke Jakarta adalah ikan asin. Kiriman ikan asin itu lalu berganti menjadi pakaian-pakaian modis dari Tanah Abang ke penjuru Kalimantan hingga Sarawak.

Keberadaan ekspedisi ini juga bergantung pada peran para kuli angkut, yang mengangkut paket pakaian dalam karung bal dari toko di pasar ke gudang ekspedisi dengan troli. ”Kita di sini nyebut-nya porter. Kalau kuli angkut kesannya kasar,” ujar Sajid (42), porter.

Istilah itu boleh jadi memang tepat. Sebab, meski kerjanya kasar, upahnya lumayan. Sajid mengaku, ketika sedang ramai seperti menjelang Lebaran sekarang, dalam sehari dia bisa mendapat upah Rp 400.000. ”Sarjana aja kalah, kan.... Seminggu kerja bisa bayar uang muka kredit motor,” cetus Sajid, yang mampu menyekolahkan empat anaknya di Bogor.

Saat berbagi kisahnya, senyum Sajid petang itu tampak begitu bahagia meski keringatnya menetes deras. Sederas rezeki yang mengalir ke koceknya.

Saturday, August 14, 2010

Sonam Kapoor Elle Magazine Scans August 2010

Before starting her career off as an actress, Sonam Kapoor worked as an assistant under Sanjay Leela Bhansali, and assisted him during the making of his film, Black (2005).  


See More

Hot Sonam Kapoor ELLE Mag Scans