Showing posts with label mesir. Show all posts
Showing posts with label mesir. Show all posts

Monday, February 28, 2011

Keterlibatan Facebook Dalam Revolusi Mesir


Setelah lama bungkam mengenai keterlibatan langsung Facebook dalam revolusi Mesir yang berakhir dengan jatuhnya Hosni Mubarak beberapa waktu yang lalu, kini Facebook tidak bisa lagi mengelak atas keterlibatan mereka dalam revolusi tersebut.

Mashable.com mencatat beberapa laporan yang menunjukkan keterlibatan terselubung dari beberapa pimpinan Facebook untuk mendukung revolusi tersebut.

Menurut Daily Beast, Facebook dilaporkan bekerja untuk melindungi identitas aktivis Mesir. Situs berita ini mengklaim memperoleh e-mail dari eksekutif Facebook dan para administrator dari sebuahPage di Facebook dengan nama We Are All Khaled Said yang merupakan awal mula pusat gempa revolusi digital ini. Facebook Page ini diciptakan untuk mengingat seorang laki-laki Mesir yang dibunuh musim panas lalu oleh polisi.

Lebih jauh Daily Beast mengatakan bahwa eksekutif Facebook mengambil langkah-langkah yang tidak biasa untuk melindungi identitas para pemimpin protes selama pemberontakan Mesir. Pada tanggal 25 Januari awal mula revolusi mesir tersebut, pemrotes di Mesir yang tidak mungkin dapat menghubungi teman-teman mereka di seluruh Mesir untuk mengadakan demonstrasi secara serentak. Seorang admin dari sebuah Page di Facebook telah meminta bantuan top executive Facebook untuk membantunya menyebarkan email.

Tidak lama kemudian Page di Facebook tersebut menjadi sangat populer dan menjadi tempat online bagi para demonstran untuk berkumpul serta menjadi awal gerakan revolusi tersebut. Setiap hari selalu ada update di wall dan sebanyak 400 ribu fans. Page ini memuat berbagai permohonan ber-api-api agar para pendemo di Mesir bergabung. Para pemrotes terus bergabung hal ini membuat kekhawatiran bagi administrator page yang bernama We Are All Khaled Said tersebut. Administrator merasa pemerintah regim Mubarak akan melancarkan serangan cyber untuk menutup Page tersebut atau menangkapi para pengelolanya. Sampai pada titik ini belum jelas apakah Facebook memberikan bantuan.

Halaman Facebook We Are All Khaled Said, sumber:https://www.facebook.com/ElShaheeed

Di suatu malam tanggal 25 Januari tersebut, Richard Allan, Direktur Kebijakan Facebook untuk Eropa merespon kekhawatiran administrator Page di Facebook tersebut dengan mengatakan:

“We have put all the key pages into special protection,” he wrote in an email. A team, he said, “is monitoring activity from Egypt now on a 24/7 basis.”

Ini artinya secara resmi atau tidak (melalui pribadi Richard Allan) Facebook telah memberikan perlindungan khusus terhadap Page We Are All Khaled Said agat tidak mudah diserang pemerintah Mesir atau agar pengelolanya tidak mudah untuk ditangkapi.

Dengan memberikan perlindungan istimewa terhadap page ini, Facebook telah memainkan peran sebagai tempat berkumpul para aktivis pro revolusi Mesir untuk menyatukan kekuatan mereka dan untuk terus berdemo, menggalang kekuatan selagi Hosni Mubarak tidak juga mau turun dari jabatannya. Namun Richard Allan menolak untuk mengomentari hal ini. Ia sendiri bergabung dengan Facebook pada bulan Juni 2009. Dalam sebuah wawancara di bulan Agustus dengan Financial Times, ia mengatakan bahwa di antara tanggung jawabnya adalah melakukan deal dengan sensor, kebebasan berbicara dan privasi, serta mempromosikan Facebook untuk kepentingan umum.

Dengan latar belakang sebagai seorang yang suka kebebasan berbicara dan anti sensor serta ditempatkan pada posisi yang cukup menentukan di Facebook bukan tidak mungkin Richard Allan telah menggunakan posisinya baik resmi atau tidak untuk mendukung revolusi Mesir. Seorang mantan pegawai Facebook mengatakan bahwa Richard Allan memiliki kekuatan untuk mengirimkan email kepada siapa saja yang berkepentingan dalam situasi tertentu.

Dengan demikian, sengaja atau tidak memang Facebook telah berperan cukup banyak dalam revolusi Mesir yang berhasil menumbangkan rezim Hosni Mubarak tersebut. Setelah berhasilnya revolusi tersebut, peningkatan pengguna Facebook Mesir meningkat secara mengejutkan. Tidak tahu juga apakah keberhasilan revolusi tersebut membuat warga Mesir merasa harus berterimakasih kepada Facebook dengan beramai-ramai menjadi anggotanya.

Menarik juga dilihat, pemadaman jaringan internet oleh pemerintah Mesir selama beberapa hari tidak menyurutkan api revolusi di Mesir padahal Facebook hanya dapat ditengok jika ada koneksi internet. Hal ini menandakan, bahwa gelombang revolusi tersebut ternyata sudah cukup besar, Facebook berperan menyatukan gelombang tersebut dan ketika telah bersatu, tidak dapat lagi dihentikan walaupun dengan memutuskan koneksi internet.

    Thursday, February 10, 2011

    "Perang" Pun Pecah di Dunia Maya - KOMPAS

    Aksi demonstrasi menuntut lengsernya rezim Presiden Hosni Mubarak di Mesir berlangsung relatif damai beberapa hari terakhir ini. Tak lagi terlihat bentrokan massal antara penentang dan pendukung Mubarak seperti pekan lalu, yang menewaskan 11 orang dan melukai ratusan orang.

    Akan tetapi, perang antardua kubu tersebut masih terus berlangsung di dunia maya. Dua akun Facebook yang menjadi pemicu gerakan revolusi di Mesir, yakni ”6th of April Youth Movement” (Gerakan Pemuda 6 April) dan ”We are all Khaled Said” (Kita Semua Khaled Said), dibanjiri komentar pendukung Mubarak yang mengecam aksi antipemerintah ini.

    Mereka menuduh pendukung revolusi ini sebagai agen dan mata-mata pihak asing dan tidak patriotik. ”Kalian semua yang mendukung (gerakan) 6 April dan Khaled Said, saya yakin kalian didukung (kaum) Zionis, atau Hamas, atau Hezbollah,” tulis seseorang bernama Ahmed Shekoo di dinding akun ”We are all Khaled Said”.

    Para pendukung presiden bertangan besi itu juga menggunakan kata-kata agresif, taktik menakut-nakuti, hingga ungkapan emosional untuk menyerang para musuh mereka. ”Aku tidak percaya apa yang kalian lakukan terhadap pria itu, bagaimanapun presiden adalah simbol Mesir, dan dia telah mengabdi negara ini selama 30 tahun,” tulis seorang pendukung Mubarak.

    Pendukung Mubarak yang lain menjuluki demonstran yang masih bertahan di Alun-alun Tahrir, Kairo, dan tempat-tempat lain di Mesir sebagai ”anak- anak pelacur yang berusaha merusak stabilitas nasional”.

    Pihak demonstran menganggap serangan di dunia maya itu merupakan bagian dari kampanye terorganisasi pemerintah untuk memadamkan revolusi.

    ”Banyak sekali komentar online bernada mencela dan menghina demonstran. Tetapi, sejak Jumat, jumlah mereka turun drastis,” ungkap Salah Mohammed, demonstran dari kelompok oposisi Ikhwanul Muslimin.

    Akun palsu

    Ahmed Zahran, demonstran dan aktivis dunia maya, menambahkan, pendukung Mubarak itu membuat akun-akun palsu, lalu ramai-ramai bergabung di akun-akun antipemerintah. Begitu diterima, mereka mulai mengumbar omong kosong.

    ”Komentar-komentar mereka biasanya sangat kasar, yang justru membuat mereka langsung dikenali,” kata Zahran.

    Namun, suara-suara antirevolusi ini langsung tenggelam oleh banjir balasan dari pendukung revolusi. ”Setiap ada orang yang memuat sesuatu yang melawan demonstran, kami cepat-cepat merapatkan barisan untuk membalas,” ujar Ibrahim, seorang teknisi komputer dan aktivis dunia maya.

    Revolusi di Tunisia dan Mesir memang digalang oleh anak- anak muda di dunia maya melalui Twitter, Facebook, dan berbagai tulisan dan diskusi di blog. Wael Ghonim (32), pejabat eksekutif pemasaran Google Inc, yang sempat ditahan selama 12 hari, dielu-elukan seperti pahlawan saat dibebaskan, Senin. Ghonim-lah yang membuat akun ”We are all Khaled Said” di Facebook.

    Metode penggalangan serupa juga dilakukan di sejumlah negara Timur Tengah lain, seperti Suriah, Kuwait, Arab Saudi, dan Palestina. Namun, tidak semua bisa berkembang menjadi aksi nyata. (AFP/DHF)



    Sunday, February 6, 2011

    Imanda Pernah Saksikan Keajaiban Sang Khalik Di Gaza


    https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYWGTbkmJr4PZ9vsgl-nInxQixaLYh3ZvgLkgFpTiWgCYNmRR9S5sxl7CCa2wO4fekqRcPoSaazk6x8GiZfUji5zAJk5h9MrJev_bOlCJi3luunqiHG-QRaOhJprPbHHjSU5zNyv3L0RYF/s1600/Imanda.jpg

    Imanda Amalia (28 tahun), yang dilaporkan menjadi korban konflik di Mesir bekerja di Badan Bantuan PBB, khususnya untuk Badan Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA).

    UNRWA merupakan bantuan dan agen yang bertugas membangunan manusia dengan memberikan pendidikan, perawatan kesehatan, pelayanan sosial dan bantuan darurat ke lebih dari 4,7 juta pengungsi Palestina yang tinggal di Yordania, Lebanon dan Suriah, serta di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

    Rupanya Manda, begitu ia menulis panggilannya dalam sejumlah tulisan dan pesan Blackberry, memiliki pengalaman spiritual yang ia anggap sebagai keajaiban dari Yang Maha Pencipta. Suatu hari di kawasan Gaza ia menyaksikan pertikaian 'rutin' yang kerap terjadi di wilayah tersebut. Pengalaman spiritualnya tersebut ia tuliskan dalam sebuah tulisan yang kemudian diposting dalam akun Facebook Science of Universe. Berikut tulisan Imanda tersebut:

    Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Berbagi hikmah walaupun sudah beberapa hari yang lalu, juga sudah pernah Manda posting d chatt ...

    Jabaliya, Gaza Strip 7:48:27 AM | Thu, Jul 15, 2010

    SubhanALLAH ..... SubhanALLAH ... SubhanALLAH ...

    Hanya itu yang tlontar dari lisanku saat melihat kejadian yang membuatku tak mempercayai apa yg ku lihat.

    Pagi ini setelah sholat subuh aku sedang menyapa teman² dan orang tcinta lewat chatting. Tiba² aku dtugaskan untuk berangkat ke al Awda Maternity Hospital untuk sectio. Sekitar 2 km dari Mess.

    Dalam pjalananku menuju kesana aku melihat anak laki² berlarian dgn batu di tangan mereka. Aaaaaahhh lagi² intifadhah, masih pagi mereka sudah berusaha menghalau para pencuri tanah air mereka itu dgn batu ....

    Awalnya ku lihat tentara² itu diam saja menghindar, namun tiba² mereka memberondongkan senjatanya ke arah anak², Berlarian mereka mencoba menyelamatkan diri sambil terus melempari para tentara itu dgn batu.

    SubhanALLAH ....

    Tiba² aku melihat hijab putih besar melingkupi anak² tsb ... Seperti kabut tipis berwarna putih membentuk kubah yang melindungi anak² tsebut. Jarak mereka begitu dekat dengan tentara yg mengejar mereka namun para tentara itu spt tdk dapat melihat mereka dan kehilangan arah. Sementara anak² itu sama sekali tdk tsentuh peluru

    Gemetar tubuhku melihat keajaiban itu tjadi langsung d depan mataku. Aku katakan pada Abdullah driver kami apakah dia juga melihat hijab itu ?

    " Yes Doc, God always give the hand here .... "

    ALLAHu Akbar .... ALLAHu akbar .....
    Kelu lidahku, tubuhku bgetar .....
    Aku menyaksikannya langsung
    Aku melihat langsung kuasaNya
    SubhanALLAH ............

    Grüße,

    imanda amalia™

    Leben ist die Freigabe für die anderen

    UNO - Flüchtlingshilfe e.V. | the United Nations High Commissioner for Refugees
    [by tribunnews]

    Mesir : Kiat Mengantisipasi Pemblokiran Internet - Wicaksono

    nointernet

    Rakyat Mesir tampaknya harus berterima kasih kepada Ujjwal Singh dan Google. Berkat inovasi Manajer Produk Google untuk Timur Tengah dan Afrika Utara inilah pemblokiran Internet oleh pemerintah Mesir bisa ditembus. Para pengguna Twitter dapat terus berkicau tentang situasi negeri yang tengah bergejolak itu ke seluruh penjuru dunia.

    Pemblokiran saluran komunikasi yang dimulai pada 28 Januari itu adalah salah satu cara membungkam suara rakyat yang menentang pemerintah Husni Mubarak. Rakyat menuntut Mubarak yang telah berkuasa selama 30 tahun mundur dari jabatannya. Mereka menggunakan, salah satunya, Twitter sebagai sarana komunikasi dan menggalang kekuatan.

    Akibat pemblokiran itu, seluruh jaringan Internet di Negeri Piramida tersebut padam total. Para penggunanya tak bisa mengakses ranah mayantara. Informasi perihal demo berdarah yang sebelumnya mengalir lewat jejaring sosial, baik Twitter, Facebook, maupun Skype, pun mandek.

    Bagaimana cara pemerintah Mesir memadamkan jaringan Internet?

    Pertama, mereka mematikan router — semacam pengatur lalu lintas data antarjaringan komputer yang masuk maupun keluar Mesir — milik penyelenggara jasa Internet (ISP), sehingga secara digital warga Mesir terisolasi.

    Untuk mencegah aksi menembus penutupan Internet, pemerintah juga menutup border gateway protocol (BGP). Di Mesir terdapat 3.500 BGP. Pada Jumat pekan lalu, pukul 00.34 waktu setempat, secara serentak seluruh BGP itu tertutup. Akibatnya, pelanggan dari lima ISP terbesar di Mesir, yakni Telecom Egypt, Raya, Link Egypt, Etisalat Misr, dan Internet Egypt, tak bisa mengakses Internet.

    “Jika yang dimatikan hanya DNS, warga Mesir masih tetap bisa mengakses Internet lewat DNS luar negeri. Jadi yang dibungkam seluruh sistem,” kata seorang ahli teknologi Stephane Bortzmeyer.

    Di tengah pemblokiran massal itulah Singh melihat ada satu celah: jaringan telepon yang dioperasikan oleh Telecom Egypt. Jaringan ini membuat panggilan lokal dan interlokal bisa dilakukan. Singh dan Google membantu rakyat Mesir dapat terus berkicau di Twitter dengan layanan Speak-to-Tweet melalui telepon.

    Caranya? Untuk mengirimkan kicauannya ke Twitter, warga Mesir bisa menekan nomor (650) 419-4196, +390662207294, atau +97316199855. Pesan ditinggalkan dalam bentuk suara. Oleh server SayNow, pesan suara itu diubah menjadi sebuah kicauan yang dikirim ke situs Twitter dan diberi tanda pagar (hashtag) #Egypt.

    Tak hanya membaca teks, orang lain juga dapat mendengarkan cicitan itu dengan menekan nomor yang sama. “Siapa pun bisa mengirimkan kicauan dengan meninggalkan pesan suara di salah satu nomor telepon internasional itu, dan layanan kami akan secara instan mengirimkan kicauan itu dengan #Egypt,” demikian pernyataan Google dalam sebuah tulisan di blognya. “Tak perlu koneksi Internet.”

    “Kami berharap ini dapat membantu rakyat Mesir untuk tetap terkoneksi dalam situasi yang sangat sulit ini,” kata Singh.

    Banyak pihak terbantu oleh solusi Singh. Saluran televisi Al Jazeera, misalnya, memantau lini masa bertanda #Egypt itu untuk memperoleh kabar terbaru di Mesir, lalu menyiarkannya ke seluruh dunia.

    Mesir memang telah membuka kembali jaringan Internet mulai Rabu lalu. Tapi bukan tak mungkin akan menutupnya lagi. Langkah Mesir bukan tak mungkin diikuti jejaknya oleh negara-negara yang represif lainnya. Sudah selayaknya bila masyarakat sipil, di mana pun mereka berada, melakukan langkah-langkah preventif untuk mengantisipasi pemblokiran Internet.

    Upaya antisipasi itu bisa dibaca di Wired. Situs ini bahkan telah mempublikasikan secara lengkap tahap-tahap persiapan menghadapi upaya penutupan akses mayantara. Tahap itu meliputi bagaimana menyiapkan skenario terburuk, cara memulihkan jaringan, memanfaatkan akses satelit, memakai jaringan radio, dan sebagainya.

    Di tengah maraknya kecenderungan beberapa negara yang berhasrat menguasai dan menyensor Internet, upaya persiapan semacam itu menjadi penting. Sebab, seperti kata Che Guevara, “Revolusi bukan seperti buah apel yang jatuh karena masak. Kita harus mempersiapkannya.”

    http://blog.tempointeraktif.com/author/wicaksono/
    Kiat Mengantisipasi Pemblokiran Internet : Blog Tempo Interaktif

    Saturday, February 5, 2011

    WikiLeaks: AS Telah Siapkan Omar Suleiman Untuk Gantikan Mubarak



    Den Haag
    - Kabel diplomatik terbaru terbitan WikiLeaks soal krisis Mesir dirilis. WikiLeaks menyebut pemerintah Amerika Serikat (AS) sejak awal memang telah menyiapkan Kepala Badan Intelijen Mesir Omar Suleiman sebagai Presiden Mesir mendatang.

    Omar Suleiman disiapkan sebagai kandidat teratas untuk mengambil alih negara jika sesuatu terjadi kepada Presiden Hosni Mubarak. Pada hari Sabtu (29/1) lalu informasi ini terbukti benar ketika Mubarak menunjuk Suleiman untuk menjabat wakil presiden.

    Hal ini membuat Suleiman berada di baris pertama untuk menggantikan Mubarak. Seperti dikutip dari halaman WikiLeaks, Sabtu (5/2/2011), seorang pejabat intelijen yang dilatih di US Khusus Warfare School di Fort Bragg mengatakan bahwa Suleiman menjadi kepala badan mata-mata pada tahun 1993 yang membawanya dekat dengan CIA.

    Baru-baru ini Suleiman mengambil peran sebagai kepala interlocuter Mesir dengan Israel untuk membahas proses perdamaian antara Hamas dan Fatah. Dalam beberapa tahun terakhir sebagian besar analis politik mengasumsikan bahwa pewaris jabatan Presiden akan dipegang Gamal Mubarak, putra Mubarak sendiri.

    Namun kedutaan AS di Kairo sampai pada kesimpulan yang berbeda lebih dari lima tahun yang lalu. Pada tanggal 15 Juni 2005, memo (05CAIRO4534) ditulis untuk Timotius Pounds, direktur untuk Suriah, Libanon, Mesir, dan Afrika Utara di Dewan Keamanan Nasional AS, mencatat: "(A) akan setuju bahwa calon yang paling mungkin ditunjuk untuk pos (wakil presiden) adalah Jenderal Omar Soliman, Direktur Intelijen Mesir Umum (Egis)". (Pejabat Departemen menggunakan ejaan yang berbeda dari nama Suleiman).

    Setahun kemudian, memo diplomatik lainnya (06CAIRO2933) ditulis pada tanggal 14 Mei 2006 menegaskan bahwa pemerintah AS bekerja dengan Sulaiman pada hal-hal regional utama seperti mencari tahu bagaimana cara terbaik untuk menyingkirkan Hamas di Palestina. "(O) kecerdasan kolaborasi dengan Omar Soliman, yang diperkirakan di Washington minggu depan, mungkin sekarang elemen hubungan paling sukses."

    Memo diplomatik, yang ditulis oleh Francis J. Ricciardone, Jr (Duta Besar AS untuk Mesir) untuk Robert Zoellick (Deputi Menteri Luar Negeri) yang sedang berkunjung ke Kairo pada saat itu, mencatat bahwa "Omar Soliman juga memberitahu kami dia akan senang melihat kamu (Zoellick), jika jadwal izin - ia akan bekerja menjadi delegasi Israel dan PA di Sharm "

    Lainnya, Suleiman dilaporkan telah mengatakan kepada duta besar AS, "Mesir adalah mitra Amerika" mencatat bahwa "Mesir akan terus memberikan USG (Pemerintah AS) pengetahuan dan keahlian pada isu-isu regional yang penting, seperti Lebanon dan Irak. Konflik Israel-Palestina tetap menjadi isu inti" (roabaca.com/detiknews)

    WikiLeaks: AS Telah Siapkan Omar Suleiman Untuk Gantikan Mubarak

    Monday, January 31, 2011

    Ruhut Sitompul Tantang Sultan HB X Bertaruh Potong Leher



    RMOL. Jurubicara Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, marah dengan pihak-pihak yang menghubungkan kerusuhan di Tunisia dan Mesir akan melanda Indonesia.

    Sebelumnya, Sultan Hamengku Buwono X, menyatakan bahwa kerusuhan di Mesir bisa terjadi di Indonesia jika institusi negara yang seharusnya melindungi rakyat namun tidak menjadi pelita bagi rakyat. Beberapa waktu lalu, hal senada juga disampaikan oleh anggota Komisi I DPR Tanthowi Yahya. Menurut Tanthowi, dimanapun, kalau rezim penguasa menindas rakyat, makan perlawanan akan mencuat.

    "Saya katakan, tolong catat dengan tebal. Sultan, Tanthowi itu (maaf) goblog," kata Ruhut, kepada Rakyat Merdeka Online, beberapa saat lalu (Minggu, 30/1).

    Menurut Ruhut, kondisi sosial politik di Tunisia dan Mesir sangat berbeda dengan Indonesia. Katanya, Tunisia dan Mesir dipimpin oleh rezim diktator, persis seperti Indonesia ketika dipimpin oleh rezim Soeharto. Sedangkan Indonesia kini, masih kata Ruhut, merupakan negara demokrasi terbesar di dunia. Selain itu, kedua negara di Afrika itu menjadikan kekuasaan sebagai panglima, sedangkan di Indonesia kekusaan berada di dalam payung hukum.

    "Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya," kata Ruhut.

    Ruhut pun menantang Sultan dan Tanthowi untuk memprediksi politik masa depan Indonesia. Dia berani bertaruh bahwa SBY tidak akan goyah sebab didukung oleh 63 persen rakyat Indonesia.

    "Kalau SBY jatuh, potong leher saya. Kalau SBY tidak goyang, saya tantang si Sultan dan si Tanthowi untuk potong leher mereka," demikian Ruhut.


    =========================

    Sultan HB X: Kerusuhan Mesir Bisa Terjadi Juga di Indonesia



    Tidak mustahil, krisis politik di Tunisia dan kerusuhan melawan rezim Husni Mubarak di Mesir akan merembet ke Indonesia.

    Demikian disampaikan Sri Sultan Hamengku Buwono X di sela-sela acara simposium Nasional Demokrat (Nasdem) di JCC, Kemayoran, Jakarta (Minggu, 30/1).

    Menurut Sultan, kerusuhan di Mesir bisa terjadi di Indonesia, jika masyarakat tidak percaya lagi pada institusi yang seharusnya memberikan arahan dan menjadi pelita bagi rakyat. Agar tidak terjadi delegitimasi kepada pemerintah, Sultan menyarankan, agar pemerintah segera memberikan klarifikasi kepada rakyat.

    "Mana aspek yang ada kebenaran dan mana aspek pembohongan," demikian Sultan.[yan]


    =========================

    Mesir Sepi Dan Mencekam
    Kumpulkan Amunisi, Demonstran Sibuk Bergerilya



    bukota Mesir, Kairo, sejenak beristirahat setelah jadi pusat tumpahan kemarahan para aktivis demonstran, Rabu (26/1).

    Di Bundaran Tahrir, pusat kota Ka­iro, tampak tenang setelah ter­jadi unjuk rasa hebat yang di­ju­luki sebagai “Yawmul Ghadhab (Hari Kemarahan).” Meski aura mencekam belum mereda, su­asana di sana sudah sepi dan ha­nya tersisa para pekerja keber­sihan melakukan tugasnya dan ra­tusan aparat keamanan yang rutin berjaga-jaga.

    Nampaknya para aktivis di sean­tero Mesir sedang tiarap mengum­pulkan massa dan “amu­­nisi” lagi dengan cara ber­gerilya. Mereka, pa­ra penentang rezim Hosni Mubarak ku­cing-kucing­an de­ngan pihak ke­polisian di jalan dan perkam­pu­ngan sampai Kamis (27/1) dinihari.

    Seperti diketahui, unjuk rasa “ha­ri kemarahan” di Kairo dan se­jumlah kota lainnya telah me­newaskan tiga orang termasuk polisi. Ratusan orang juga dika­barkan telah ditahan dan diinte­rogasi pihak berwajib.

    Selain di Kairo, sejumlah kota provinsi lainnya seperti Suez, Ismailiyah, Fayyum, Qalyubia dan Iskandariyah juga terjadi unjuk rasa serupa.

    Para pengunjuk rasa menuntut pembubaran parlemen yang ter­pilih dalam pemilihan pada No­vember 2010 dan mendesak Pre­siden Hosni Mubarak untuk tidak lagi mencalonkan diri dalam pemilihan presiden pada akhir tahun ini.

    Polisi menggunakan bebe­rapa puncak gedung di sekitar Bun­daran Tahrir untuk me­nem­bakkan gas air mata terhadap pe­ngunjuk rasa. Menteri Dalam Negeri Mesir Habib Al Adly me­ngatakan, pihaknya akan me­ngambil tindakan tegas terhadap pengunjuk rasa yang meng­gang­gu ketertiban umum.

    Mendagri Al-Adly memang membolehkan para pengunjuk rasa untuk me­nyam­paikan inspi­rasi mereka, namun dia mewanti-wanti agar tidak meng­ganggu keamanan.

    Ayman Nur, tokoh oposisi yang pada pemilihan presiden pada 2005 meraih suara terbanyak ke­dua setelah Mubarak me­nga­ta­kan keyakinannya bahwa Mesir akan menyaksikan revolusi total se­perti terjadi di Tunisia. “Revo­lu­si di Tunisia segera akan ter­ja­di di Mesir,” ujarnya.

    Namun, kalangan pengamat mengatakan bahwa Presiden Mu­barak masih memiliki ke­kuatan karena didukung kuat oleh militer.

    “Para pemimpin militer masih loyal kepada Mubarak. Hal itu ber­­beda dengan Ben Ali yang jatuh akibat ia tidak lagi diso­kong militer,” kata analis politik Amr Mostafa, dalam debat di jaringan televisi Al-Jazeera.

    Meski begitu, tersiar kabar para demonstran akan melanjutkan aksi demo dengan skala lebih be­sar pada hari ini. “Muslim Mesir dan umat Kristiani akan bersama-sama berjuang melawan korupsi, pengangguran, penin­dasan dan ketidak bebasan,” tulis seorang aktivis via facebook-nya.

    Pemerintah Mesir langsung menghadang aksi penggalangan massa dengan memblokir situs mikroblogging Twitter. Nasib serupa dialami Face­book, You­Tube, Person.com dan veoh.com. Namun beberapa war­ga Mesir mengklaim masih bisa mengak­ses situs-situs terse­but lewat te­lepon genggam. [RM]

    Sunday, January 30, 2011

    Komunikasi Diblokir, Mesir Kembali ke Era Morse

    Headline

    INILAH.COM, Kairo- Pemerintah Mesir membatasi komunikasi dalam negeri, baik internet maupun seluler. Di tengah kekacauan, masyarakat global berhasil menemukan trik.

    "Internet tidak bekerja. Polisi mulai membakar mobil," tulis salah satu warga Mesir. "Hari ini menjadi hari paling berpengaruh di Mesir," tulis warga lainnya.

    Pesan tersebut tidak datang dari ponsel atau komputer melainkan sebuah radio amatir yang memanfaatkan kode Morse di sebuah tempat tersembunyi di Mesir.

    Usaha pemerintah Mesir membatasi komunikasi dalam negeri telah memicu gelombang tuntutan dari grup internasional pendukung kebebasan berbicara di internet yang disebut Telecomix.

    Pengorganisasian ini meliputi chat room, wikipedia, kolaborasi tulisan, dan lainnya. Sebagian besar anggota kelompok ini memilih anonim saat menginformasikan suasana di Mesir.

    Mereka mempublikasikan cara komunikasi ‘aman’ yang mampu menembus aturan pemerintah. Telecomix sebelumnya juga bekerja sama mengupayakan kebebasan berbicara di Tunisia, Iran, Cina dan negara lain yang menyensor intenet.

    Saat ini, Mesir diklaim sebagai prioritas utama Telecomix, seperti diinformasikan situs We RE-Build. mereka memiliki daftar yang selalu diperbarui untuk menunjukkan pembicaraan paling update di Mesir. Mereka juga menyediakan ruang obrolan yang sulit ditembus.

    Kini ada sekitar 20 anggota Telecomix yang sangat aktif, 50 anggota aktif dan sekitar 300 anggota pendukung asal Mesir, berdasarkan keterangan administrator Telecomix, Christopher Kullenberg dari Gothenburg, Mesir.

    “Anggap Telecomix sebagai sekelompok orang yang terus berkembang melakukan satu hal bersama-sama,” tegas Kullenberg.

    Kode Morse adalah metode dalam pengiriman informasi dengan menggunakan standar data pengiriman nada atau suara,cahaya dengan membedakan ketukan dash dan dot dari pesan kalimat, kata, huruf, angka dan tanda baca.

    Kode Morse di ciptakan oleh Samuel Morse seorang yang bekerja sebagai elektrik telegraph pada 1830. Samuel Morse juga pengguna morse pada awal pesawat pemancar diperkenalkan. Dengan berkembang pesatnya alat
    komunikasi dan teknologi kode morse sangat luas dikenal di seluruh dunia untuk keperluan navigasi pelayaran, pesawat udara, serta komunikasi militer. [mor]