Showing posts with label kuliner. Show all posts
Showing posts with label kuliner. Show all posts

Wednesday, January 26, 2011

Nasi Timbel Diusulkan Jadi Warisan Dunia

Headline

Bandung -
Angklung, batik, keris, wayang kini sudah resmi diakui oleh organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan PBB, Unesco sebagai warisan budaya. Kini giliran nasi timbel beserta 99 jenis warisan budaya lain yang diusulkan.

Tahap pendataan warisan budaya takbenda yang tersebar di Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung ini dilakukan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPNST) Bandung sejak pertengahan tahun 2010 lalu.

Kepala BPNST Bandung Toto Sucipto menjelaskan, warisan budaya tak benda mengandung arti praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan serta keterampilan yang diakui oleh berbagai komunitas, kelompok atau perorangan sebagai bagian warisan budaya mereka. Dalam kehidupan masyarakat, hal itu bisa berwujud alam, budaya atau kuliner.

“Kami ajukan nasi liwet karena jenis kuliner ini bukan hanya makanan belaka, tetapi merupakan hasil kreasi budaya yang diakui oleh masyarakat sebagai bagian dari budaya mereka,” ujar Toto, di sela acara Bimbingan Teknis Penelitian, di Kantor BPNST Jalan Cinambo Kota Bandung, Rabu (26/1/2011).

Toto mengatakan, usulan nasi liwet serta 99 jenis kebudayaan tradisional lainnya, kini sudah tersimpan di data base Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI.

Selanjutnya data budaya takbenda itu akan diserahkan ke Unesco untuk dilakukan penyeleksian. Periode berikutnya, Unesco akan menyelenggarakan penyeleksian warisan budaya takbenda di Bali.[ito]

Nasi Timbel Diusulkan Jadi Warisan Budaya Dunia

INILAH.COM, Bandung - Angklung, batik, keris, dan wayang kini sudah resmi diakui oleh organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan PBB Unesco sebagai warisan budaya. Kini giliran nasi timbel beserta 99 jenis warisan budaya lain yang diusulkan untuk diakui.

Tahap pendataan warisan budaya takbenda yang tersebar di Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Lampung ini dilakukan oleh Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPNST) Bandung sejak pertengahan tahun 2010 lalu.

Kepala BPNST Bandung Toto Sucipto menjelaskan, warisan budaya tak benda mengandung arti praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan serta keterampilan yang diakui oleh berbagai komunitas, kelompok atau perorangan sebagai bagian warisan budaya mereka. Dalam kehidupan masyarakat, hal itu bisa berwujud alam, budaya atau kuliner.

“Kami ajukan nasi liwet karena jenis kuliner ini bukan hanya makanan belaka, tetapi merupakan hasil kreasi budaya yang diakui oleh masyarakat sebagai bagian dari budaya mereka,” ujar Toto, di sela acara Bimbingan Teknis Penelitian, di Kantor BPNST Jalan Cinambo Kota Bandung, Rabu (26/1/2011).

Toto mengatakan, usulan nasi liwet serta 99 jenis kebudayaan tradisional lainnya, kini sudah tersimpan di data base Dirjen Nilai Budaya, Seni dan Film Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI.

Selanjutnya data budaya takbenda itu akan diserahkan ke Unesco untuk dilakukan penyeleksian. Periode berikutnya, Unesco akan menyelenggarakan penyeleksian warisan budaya takbenda di Bali.[ito]

Thursday, September 23, 2010

15 Stunning Examples Of Sandwich Art

15 Stunning Examples Of Sandwich Art

Biasanya kan dibuat sekedarnya belaka, yang penting bisa cepet bikin perut kenyang. Namun kalau pas ada waktu dan ingin sedikit improvisasi, foto-foto berikut ini bisa menjadi inspirasi.
:)
Dan rupanya pula ada blog khusus yang mengoleksi ragam sandwich yangg dapat jadi rujukan/inspirasi, yakni : http://www.insanewiches.com/

1
2
3
6
5
7
11
8
4
12
13
14
15

Friday, September 3, 2010

Razia di Yogya, Ditemukan Bakso Campur Daging Babi

Yahoo! Indonesia News

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA--Dinas Ketertiban Kota Yogyakarta bersama Dinas Perindustrian, perdagangan, koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Yogyakarta gencar melakukan razia daging sapi maupun daging ayam menjelang Lebaran tahun 2010 ini. Bahkan dalam razia yang dilakukan Jumat (27/8) lalu, tim gabungan Pemkot Yogyakarta menemukan dua pedagang bakso yang sengaja mencampurkan daging sapi dengan daging babi di produk baksonya tersebut.
Selain itu dalam razia tersebut juga banyak ditemukan daging yang tidak melalui pengecekan (her-keuring) terlebih dahulu sebelum dijual. Bagi pedagang bakso 'nakal' ini dikenai sanksi Tindak Pidana Ringan (Tipiring) dan dipanggil Satreskrim Poltabes.
Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Disperindagkoptan Kota Yogya, Sugeng Darmanto mengatakan, razia ini memeriksa 36 pedagang daging, 26 pedagang bakso dan empat Rumah Pemotongan Unggas( RPU).
Dari hasil pemeriksaan, ditemukan dua pedagang bakso di kawasan Kemetiran dan Pasar Talok yang menjual bakso dengan cara mencampur daging sapi dengan babi. Alasan mereka mencampur dengan daging babi, selain pertimbangannya murah, rasanya juga lebih enak karena lebih terasa berlemak. ''Sebenarnya menjual bakso babi maupun bakso sapi dicampuri daging ayam ini tidak dilarang, asalkan ada tulisannya jelas sehingga konsumen benar-benar mengetahuinya," terang Sugeng kepada wartawan, Kamis (2/9).
Pantauan lain juga dilakukan di pasar seperti Beringharjo, Terban, Kranggan, Demangan, Sentul dan Prawirotaman. Hasil pantauan ditemukan tujuh pedagang tidak melakukan her-keuring terlebih dahulu sebelum daging dijual ke konsumen. Pantauan dilakukan dari 87 pedagang dan tujuh penggilingan bakso. "Mereka yang tidak her-keuring tidak dapat menunjukkan surat bukti dan pada daging yang baru dipotong tidak ada stempel bukti her-keuring," jelas Sugeng.
Terpisah, Kepala Bidang Pengendalian Operasi (Kabid Dalop) Dinas Ketertiban (Dintib) Kota Yogya, Nurwidi Hartana menyatakan, dari hasil pemantauan mulai dinihari pukul 01.00 hingga 04.00 WIB, semua daging yang diperjualbelikan dinyatakan layak jual. Meski demikian masih ada pelanggaran administrasi dari para pedagang dengan tidak melakukan her-keuring. Padahal sesuai aturan Peraturan Daerah (Perda) 21 Tahun 2009 tentang pemotongan hewan disebutkan keharusan melakukan her-keuring sebelum daging dijual.

Monday, August 30, 2010

Segarnya Es Mentimun Untuk Berbuka


VIVAnews


Bahan:
4 buah mentimun
500 ml pandan simple sirup
Es batu secukupnya

Cara membuat:
1. Belah dua mentimun, buang bijinya, serut memanjang.

2. Bagi mentimun dalam 4 gelas, tambahkan simple syrup hingga ¾ tinggi gelas.

3. Beri es batu sesuai selera. Sajikan.

Pandan simple sirup
Bahan:
150 gr gula pasir
600 ml air
1 lembar daun pandan

Cara membuat:
1. Masak semua bahan hingga mendidih dan gula larut.
2. Angkat, tutup panci dan biarkan dingin. Saring.
Sumber: Fatmah Bahalwan/Natural Cooking Club – www.ncc-indonesia.com

Makanan Mentah - Bondan WInarno


Jangan berhenti membaca! Ini bukan bizzare food, melainkan tentang sayur-mayur yang dimakan mentah tanpa dimasak.

Sekitar 20 tahun yang lalu, saya menginap di rumah Prof. Nader Shooshtari, seorang gurubesar ilmu ekonomi di Universitas Montana. Malam-malam, sambil mengobrol, dia mengambil dua botol bir dan satu kotak tupperware dari dalam lemari es. Di dalam kotak itu terdapat berbagai sayur potong. Ada brokoli, kembang kol, wortel, batang seledri besar. Sambil minum bir, camilannya adalah sayur-mayur mentah itu. Tanpa dicocol salad dressing maupun salsa.

Apa enaknya? Pada masa itu, lidah saya belumlah secerdas dan secanggih sekarang. Saya cuma ikut-ikutan dan mencoba menikmati brokoli mentah yang rasanya langu. Juga wortel mentah terasa langu. Duh, sengsara banget jadi orang modern, ya?

Nader bukanlah seorang pemalas yang enggan memasak dan menyuguhkan sayuran mentah. Itu adalah gaya hidupnya. Gaya hidup bugar â€" fit lifestyle. Ketika kami seasrama di Hale Manoa, Universitas Hawaii, Nader selalu memaksa saya turun dari tempat tidur dan ikut dia melakukan push up duapuluh kali dan sit up duapuluh kali pula. Dia sendiri melakukannya sampai hitungan seratus.

Makan sayur mentah mestinya tidak merupakan tantangan berat bagi orang Indonesia. Kuliner Nusantara juga mengenal banyak sayur mentah. Karedok, misalnya, adalah kumpulan sayur mentah. Begitu juga trancam dan berbagai lalapan mentah. Tetapi, brokoli, kembang kol, paprika, dan wortel memang memerlukan acquired taste. Saya sendiri melatih lidah saya dengan makan sayur-sayur mentah itu dicocol blue cheese atau salad dressing maupun salsa. Sekarang, semua sayur mentah sudah dapat saya nikmati tanpa cocolan apapun. Tekstur dan crunchiness dari masing-masing sayur merupakan sensasi tersendiri yang sangat dapat dinikmati.

Pernah makan sup gazpacho dari Spanyol? Sup ini sebetulnya merupakan jus sayuran â€" paprika, timun, bawang bombai, tomat â€" dengan sedikit bumbu. Sama sekali tidak dimasak. Lebih baik lagi bila disimpan semalam di lemari es.

Belum lama ini saya sempat singgah di sebuah restoran yang khusus menyajikan makanan mentah. Namanya “Juliano’s Raw†di pojokan Broadway dan 6th Avenue, Santa Monica, dekat Los Angeles, California. Tempatnya sederhana. Tetapi, ternyata sudah banyak selebritis â€" antara lain Demi Moore â€" yang melanggani restoran ini.

Juliano tidak pernah menyebut nama belakangnya. Mungkin sekali dia keturunan Italia. Tetapi, di Italia, nama seperti itu dieja sebagai Giuliano. Ia selalu tampil dengan gairah yang luar biasa. Bicara dengan mata membelalak dan kedua tangannya bergerak mendukung setiap kata-katanya.

Juliano “berdakwah†tentang living food (makanan hidup), yaitu sayur-mayur dan buah-buahan yang mengandung the power of procreation. Sayur segar bisa ditanam lagi untuk menghasilkan sayur segar beberapa kali lipat. Demikian juga biji yang dikandung buah segar dapat ditanam untuk menghasilkan buah-buahan segar berlipat ganda. Itulah yang dimaksudnya sebagai the power of procreation. Karena itu, manusia yang hanya makan sayur-mayur dan buah segar akan menjadi “lebih hidup†.

Sebaliknya, sayur-mayur dan buah akan mati bila dimasak. Karena itulah Juliano selalu menganjurkan agar sayur-mayur dan buah tidak dimasak, agar tidak kehilangan daya alamiahnya yang luar biasa bagi kehidupan manusia. “Dead foods are dead. They spoil and rot deep in your guts, finally becoming some cancer which in a delivery of excruciating pain eats you from the inside out,†tulis Juliano dalam buku-buku yang sudah diterbitkannya tentang living foods.

“If we eat wrong, no doctor can cure us. If we eat right, no doctor is needed,†itu adalah petuah lain dari Juliano. Ia menjamin bahwa semua makanannya mentah. Bila pun sempat dimasak, dipastikan tidak melalui pemanasan di atas 40 derajat Celcius. Itu dilakukan karena menurut teori, pemanasan bahan makanan di atas 80 derajat Celcius akan mematikan semua enzim yang dikandung. Yang jelas, memasak bahan pangan berarti “memeras†cairan yang dikandung. Padahal, tubuh kita sangat membutuhkan enzim dan cairan.

Oke, maka kami pun mulai meneliti daftar makanan di kartu menu untuk melihat makanan apa saja yang kira-kira akan memuaskan. Kami memesan beberapa menu untuk dicoba.

Ternyata, makanan yang datang jauh di luar dugaan kami. Misalnya, burrito yang kami pesan ternyata tidak dibungkus tortilla yang biasanya dibuat dari gandum atau tepung jagung, melainkan dibungkus nori (rumput laut). Lasagna yang kami pesan pun ternyata tidak memakai pasta. Satu-satunya makanan yang dimasak adalah yang terbuat dari campuran berbagai macam kacang.

Beberapa bahan yang banyak dipakai dalam hidangan Raw adalah wijen, wijen hitam, bit, kubis ungu, daun ketumbar, guacamole (dari avocado), krim kocok (whipped cream), rumput laut, dan berbagai jenis bunga yang dapat dimakan. Krim kocok untuk makanan maupun dessert dibuat dari Irish moss seaweed (sejenis rumput laut). Keju dibuat dari kacang-kacangan. Pasta dibuat dari zucchini. Minyak zaitun yang digunakannya juga minyak khusus yang diproses dengan panas yang tidak melebihi 35 derajat Celcius.

Rasanya? Saya tidak bohong. Betul-betul mak nyuss! Begitu segar, begitu unik, begitu khas. Saya sendiri heran betapa makanan dari bahan-bahan mentah dapat disajikan sedemikian enak. Luar biasa!

Di restorannya, Juliano hanya menyajikan makanan yang disebutnya sebagai living cuisine. Juliano™ food comes straight from the garden to your plate - demikianlah slogan restoran yang juga menjanjikan 100% organic itu. Juliano bahkan menantang tamunya agar membawa sisa makanan pulang ke rumah dan kemudian meletakkannya di tanah. Tiga hari kemudian, pasti akan tampak tanda-tanda kehidupan dari tanaman baru. Itulah bukti nyata tentang slogan living food. Bandingkan dengan daging yang Anda buang di tanah. Tiga hari kemudian yang akan bermunculan adalah belatung.

Satu hal lagi yang saya 'pelajari' di Raw adalah bahwa ternyata pada umumnya wine adalah minuman yang tidak vegan-friendly. Raw, sebaliknya, menyajikan wine khusus yang vegan-friendly, yaitu wine yang dalam proses pembuatannya tidak memakai putih telur, casein, dan gelatine yang merupakan produk hewani.

Bahan makanan yang disajikan "Raw" sebetulnya tidak hanya seratus persen organik, melainkan juga seratus persen veganik. Veganik berarti semua tanaman itu dipupuk dengan rumput laut dan abu vulkanik - tanpa pupuk dari kotoran hewan, apalagi pupuk kimia. Bahkan pencucian semua alat-alat dapur maupun alat-alat saji di "Raw" tidak memakai deterjen, melainkan dengan jeruk lemon dan cuka. Juliano barangkali memang orang yang paling fanatik dalam menjalani doktrin veganik.

"All of our foods  - fruits, vegetables, sprouted grains -  have been gently and lovingly tranformed into delicious food," kata Juliano dengan mata membelalak dan kedua tangannya 'beterbangan' ke mana-mana. Diam-diam saya menyimpan kekahawatiran, jangan-jangan kalau saya jadi veganik juga akan menjadi 'hiper' seperti Juliano - bicara dengan mata membelalak, suara tinggi, dan kedua tangan heboh ikut bicara.

"Doktrin" Juliano ini mau tidak mau mengingatkan saya pada prinsip yang dianjurkan oleh Dokter Chris Teo di Penang. Di kliniknya, Dokter Teo menyembuhkan pasien kanker secara veganik dan kebiasaan hidup sehat. Ia bahkan menganjurkan agar orang tidak menjalani kemoterapi yang menurut dia justru bertentangan dengan hukum alam.

Seorang visioner agung Alfred Einstein pernah berkata bahwa masa depan dunia ini akan lebih terjamin bila makin banyak orang beralih dari kesukaan makan produk hewani ke disiplin makan sayur-mayur dan biji-bijian.

Selamat Waisak bagi teman-teman Buddhis yang sebagian besar menganut vegetarian. Sabe satta bhavantu sukhitata. Semoga semua mahluk berbahagia.

Bondan Winarno

Kompas.

Friday, August 20, 2010

Berburu Tajil di Pasar Benhil - Jakarta

Selama bulan Ramadhan kawasan Benhil dipadati oleh para pengunjung yang membeli takzill untuk berbuka puasa. Beraneka ragam makanan dijual di tempat tersebut, diantaranya, kue bolu, minuman segar, ikan bakar, ayam goreng dan masih banyak aneka makanan lainnya yang dijual mulai dari harga Rp 3.000 sampai Rp 60.000.
VIVAnews photo









Banjir Manisan Sambut Bedug Magrib di Suriah

VIVAnews

Berbuka dengan yang manis menjadi anjuran selama menjalankan puasa Ramadan. Di Suriah, Ramadan berarti membanjirnya aneka manisan tradisional untuk berbuka puasa. Puluhan jenis manisan dan permen di rak-rak toko dan festival makanan menjadi incaran warga muslim.

Warga muslim Suriah akrab dengan berbagai manisan tradisional sebagai santapan pembuka setelah bedug magrib. Adalah nahsh, manisan yang terbuat dari adonan susu, dan ghee gula yang dibalut krim serta sirup salah satu yang paling dicari selama Ramadan. Ada pula qatayef yang berbentuk lingkaran dari adonan manis kenari dan krim yang dipanggang sebelum dicampur dengan sirup.

Manisan dan permen terkenal dari Damaskus lainnya yang banyak digemari termasuk nammoura, pasta almond, ghraybah, Raha, kellaj, wardat, osmanliyah dan maghshusheh.

Selain menampilkan berbagai penanganan manis, pasar-pasar Damaskus bersolek menyambut pembeli, terutama di kawasan pasar manisan Midan. Kawasan yang penuh dengan toko permen tersohor ke penjuru negeri. Setiap toko berusaha menampilkan fitur unik dan indah yang membangkitkan selera dan menarik para pembeli.

Abu Arab Haidar, salah satu pemilik toko manisan paling laris di Midan, menyatakan penjualan manisan dan permen selama Ramadan naik empat hingga lima kali lipat. Jenis manisan terfavorit di antara lain nahsh, nammoura dan osmanliyah.

Selain membeli manisan jadi, sebagian warga muslim membeli berbagai bahan pembuat manisan dan mengisinya dengan berbagai jenis buah dan kacang-kacangan seperti kurma, kenari, pistacio dan buah-buahan kering lainnya.

Seperti dikutip dari kantor berita SANA, selama Ramadan, penjualan permen melambung tinggi dan bertahap akan menurun saat Idul Fitri.

Thursday, August 19, 2010

Telur Asin Rasa Durian dari Kampung Bebek

http://unik4u.blogspot.com/2010/08/telur-asin-rasa-durian-dari-kampung.html

Ini kata yang tepat untuk rasa telur asin bikinan dari pengrajin di Desa Kebonsari, Kecamatan Candi, Surabaya, Jawa Timur. Telur asin yang mereka produksi bisa beraneka rasa. Ada rasa durian, coklat, strowberi, dan ikan salmon.

Bila berkunjung ke Desa Kebonsari, setelah masuk sekitar 2 kilometer ke arah timur dari gerbang desa yang ada patung bebek, aroma kandang bebek mulai tercium. Di setiap rumah aktivitas warga kampung itu hampir sama. Sebagian sibuk mengepal-ngepal telor bebek mentah dengan adonan bata merah campur garam. Sebagian lagi menyiapkan telur bebek ke tempat telur yang biasa disebut eggtre, ditumpuk hingga 10 tumpuk sebelum dikirim ke luar Jawa.

Aktivitas seperti itu sudah berlangsung sejak tahun 1992 setelah adanya program bantuan pemerintah Inpres Desa Tertinggal (IDT). Berasal dari program itu, ada 11 warga yang mulai beternak itik. Semula hanya 500 sampai 1.000 itik per orang.



”Sekarang jumlah bebek mencapai 10 ribu-15 ribu ekor per peternak,” kata Nur Hidayat, Ketua Kelompok Peternak Itik Sumber Pangan, saat ditemui di rumahnya, Rabu lalu.

Kini, jumlah peternak itik di Desa Kebonsari mencapai 30 orang. Nur Hidayat sendiri mengaku per hari panen sekitar 3.000 telur. Itu belum mengambil dari kandang milik warga lain. Kalau ditotal sekitar 10-11 ribu butir telur per hari.



Karena menjadi produsen telur bebek yang cukup besar maka desa ini diresmikan menjadi kampung bebek. Mengenai penjualannya, sekitar 60 persen dikirim ke Banjarmasin dan sisanya di daerah lokal seperti Sidoarjo dan Surabaya. ”Semua telur itu dikirim dalam keadaan mentah belum diasinkan,” ujar Nur Hidayat yang dikaruniai tiga orang anak ini.

Saat ini ia memekerjakan tujuh orang untuk membantu pengepakan telur bebek mentah sebelum di kirim ke luar Jawa. Biasanya, ia menjual telur bebek sesuai pesanan, baik telur mentah, asin, atau telur asin beraneka rasa.

Khusus mengenai telur asin beraneka rasa, Nur Hidayat menerangkan, kelompok peternak di desanya sudah diberikan pelatihan mengenai hal itu, namun hingga kini belum ada pesanan dari konsumen. ”Mungkin belum tahu konsumen, rata-rata memang pesannya telur asin,” katanya sambil menghitung jumlah telur yang akan dikirim.

Telur asin beraneka rasa ini dibuat dengan rasa ikan salmon, coklat, stroberi, durian. Pokoknya sesuai dengan keinginan pemesan. Meski demikian, rasa asinnya tetap terasa karena memang bermacam-macam rasa itu diinjeksikan ke dalam telur yang sudah diasinkan.

”Kesulitan lain adalah masa expired telur asin beraneka rasa yang hanya satu minggu sehingga kalau tidak ada pemesan kita tidak membuatnya,” ujarnya.

Nur Hidayat menjelaskan, proses pembuatan telur beraneka rasa cukup mudah. Setelah diasinkan pakai adonan bata merah selama 10 hari, telur dicek apakah ada yang rusak atau tidak.

Setelah diseleksi, telur itu direndam cuka agar kulitnya lunak. Lantas disuntik dengan jarum untuk memasukkan aneka perasa sesuai dengan keinginan pemesan atau selera sendiri. Baru kemudian dimasak. Sayangnya, masa kadaluwarsa telur asin ini hanya satu minggu sehingga para warga setempat tidak berani membuat bila tidak ada yang memesan.

Kendati demikian, setelah pencanangan kampung bebek di Desa Kebonsari ini, pesanan telur bebek di desa itu semakin meningkat. Namun, sayang belum ada upaya untuk mempromosikan telur asin beraneka rasa sehingga sampai saat ini belum ada pesanan.

sumber : http://www.ngobrolaja.com/showthread.php?t=96790